Pengembangan Cerita

PRAKATA

Sebelum membuat konten mobile journalism (mojo), penting bagi kita untuk mendalami bagaimana membentuk dan membangun jalan cerita. Penceritaan ini menggunakan konsep dasar penceritaan visual: SCRAP, 5Ws, dan Five-Point Plan. Setelah mengetahui apa yang akan kita fokuskan dalam penceritaan, kita dapat segera beralih dalam mengimplementasikan beragam elemen penceritaan multimedia, mulai dari piece to camera (PTC), B roll, wawancara, aktualitas, hingga suara.

PENCERITAAN MOJO

Jika dideskripsikan, penceritaan mojo tak jauh-jauh dari penceritaan visual (visual storytelling) pada umumnya. Namun, dengan mobile-first mindset yang sudah kita pelajari pada bagian sebelumnya, mojo menjadi praktik andalan dalam membangun konten jurnalistik yang praktis, cepat, fleksibel, dan interaktif ketimbang praktik jurnalistik pada umumnya.

Seperti yang dijelaskan Burum (2016), penceritaan mojo yang dilakukan secara visual pastinya berbeda dengan penceritaan tulisan seperti halnya koran atau majalah. Teknik tulisan ini biasanya menggunakan konsep piramida terbalik − terpenting di atas hingga paling tidak relevan di bawah − yang ditujukan untuk memudahkan pemotongan tulisan dalam kolom-kolom media cetak yang terbatas. Hal ini tentu berbeda dengan konten visual, di mana cerita dapat dibangun secara multimedia. Penceritaan mojo juga tidak lepas dari unsur 5Ws (what, when, where, why, dan who), dan dalam beberapa kesempatan, biasanya, penting untuk dipetakan sejak awal kepada audiens. Elemen penceritaannya pun kompleks: ada video, audio, narasi, musik latar, hingga grafis.

Dahulu, praktik ini mulai sering digunakan oleh para audiens yang perlahan menjadi produser konten. Lahirnya internet, seperti dikatakan Burum, membuat masyarakat dapat menjadi pemasok konten berupa user generated content (UGC) − yang adalah mentah − kepada stasiun televisi untuk kemudian diolah kembali agar dapat ditayangkan. Namun, semakin berkembangnya internet kini nyatanya membuat audiens tak lagi repot-repot mengirimkan konten buatannya kepada stasiun televisi, dan lebih memilih menyunting dan mengunggahnya sendiri di YouTube atau platform media sosial lainnya. Di sinilah cikal bakal mojo akhirnya lahir, dengan pengaplikasian jurnalistik yang lebih mobile.

Ketiga konsep pembentukan cerita − SCRAP, 5Ws, dan Five-Point Plan − saling membentuk keterkaitan layaknya segitiga, dan membantu kita dalam membentuk penceritaan yang kita inginkan dalam membuat konten mojo. Dalam satu peristiwa, kejelian kita dalam membangun angle pun dibutuhkan dalam membuat suatu produk mojo.

5 Ws

Metode pertama ini merupakan sebuah metode dasar yang dilakukan oleh para jurnalis dalam membangun sebuah cerita. Biasanya jurnalis menuliskan hampir semua aspek metode ini pada paragraf lead untuk menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi. Ivo Burum mengaplikasikan metode ini juga pada mojo.

Pada dasarnya, seluruh penulis konten harus mengetahui unsur 5 Ws (what, where, when, who, why) pada cerita yang dibuatnya. Hal ini layaknya dilakukan untuk merangkai sebuah cerita yang jelas dan tahu ke mana arah yang akan dituju oleh perancang cerita.

SCRAP  

Selain metode 5 Ws, menurut Burum (2016) mengembangkan sebuah cerita yang baik juga dapat menggunakan metode SCRAP. Apa sih SCRAP itu? Dengan singkatan Story, Characters, Resolution, Actuality, dan Production, SCRAP mampu membantu pencerita dalam merencanakan alur sebuah karya. Biasanya sebuah cerita dibuat tanpa memperhatikan target penonton, sehingga banyak pula cerita yang tidak fokus, terlalu melebar dan bertele-tele. Hal ini dapat diselesaikan dengan menggunakan metode SCRAP. Selain lebih terarah, SCRAP juga dapat membantu proses peliputan kita, dalam arti tim menjadi lebih mengetahui footage seperti apa yang harus diambil dan apa saja yang perlu dilakukan di lapangan.

Burum juga membantu kita untuk menjelaskan satu persatu dari SCRAP ini, yaitu;

Story

Bagian ini menjelaskan apa yang terjadi. Apa yang menjadikan cerita ini menarik? Apa yang menjadi tujuan dari cerita ini dan apa saja yang akan kita bahas pada peliputan kali ini? Hal ini secara sederhana kita sebut dengan angle liputan.

Character

Pada bagian ini, kita memberitahu siapa yang berada dalam cerita tersebut. Baik itu pelaku utama (host, vlogger, pembawa acara), maupun objek peliputan kita (narasumber).

Resolution

Bagian ini menjelaskan struktur sebuah cerita, bagaimana cerita ini dibangun (dari awal) dan penyelesaiannya secara garis besar. Bagian ini juga mencakup unsur mengapa dan bagaimana pada sebuah cerita.

Actuality

Bagian ini menjelaskan tujuan dari proses peliputan. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan setiap kegiatan liputan dilakukan, misalnya Vox-pop untuk mengetahui pendapat dari orang banyak, dan menyuarakan suara mereka.

Production

Produksi adalah bagian di mana kita menjelaskan bagaimana kita mengambil dan merekam cerita kita. Mulai dari angle kamera, sampai dengan alat apa saja yang digunakan pada peliputan ini. Selain itu juga bagaimana cerita ini dibawa, apakah talk show, vlogging, atau jenis video lainnya.

FIVE-POINT PLAN

Five-point plan secara sederhana merupakan alur dan gambaran umum tentang bagaimana cerita dibangun. Menurut Ivo Burum dan Stephen Quinn (2016) dalam bukunya MOJO: The Mobile Journalism Handbook, five-point plan terbagi atas lima bagian yakni an introduction (pengenalan), a story development point (pembangunan cerita), a middle section (pertengahan cerita), another story development point (pembangunan cerita lanjutan) dan an end (penutup).

Menurut Burum dan Quinn, lima pembagian tersebut diyakini berguna untuk menjaga keutuhan struktur cerita. Five-point plan ini sendiri akan menjadi pedoman saat membangun cerita, sehingga nantinya saat di lapangan, kita tidak hanya terfokus untuk merekam cerita yang ada, tetapi bisa lebih mengembangkan kreativitas di luar pedoman yang ada.

Five-point plan secara sederhana dapat dirumuskan dalam lima indikator pengembangan cerita. Lima indikator ini biasanya sering didengar dan digunakan dalam pembuatan alur sebuah cerita, yakni:

Eksposisi

Bagian ini menjelaskan gambaran keseluruhan dari cerita yang akan diproduksi. Bagian ini juga berisi pemberian konteks maupun situasi yang dibangun dalam cerita, sehingga mempermudah audiens untuk memahami lebih lanjut dan lebih dalam mengenai topik yang dibahas.

Konflik

Bagian ini berisi pemaparan masalah yang ada dari topik yang dibahas. Masalah ini dapat dipaparkan secara umum.

Klimaks

Bagian klimaks berisi pemaparan masalah secara lebih mendalam. Bagian ini merupakan kelanjutan dari konflik, di mana bagian ini akan menjelaskan secara lebih detail permasalahan yang dibahas pada bagian konflik, maupun masalah lain yang timbul dari bagian konflik.

Penyelesaian

Bagian ini berisi penyelesaian dari konflik yang dibangun dalam cerita. Penyelesaian dapat berisi solusi atas permasalahan, seperti saran dari pihak audiens maupun pihak otoritas dari topik yang diangkat. Selain itu penyelesaian tersebut juga dapat berisi opini dari pembuat cerita atas apa yang sekiranya perlu dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Resolusi

Bagian ini berisi rangkuman kesimpulan dari awal pembangunan cerita, pemaparan konflik hingga penyelesaian. Resolusi ini mirip seperti yang ada di bagian penyelesaian, tetapi lebih padat dalam merangkum rangkaian cerita yang dibangun.

ELEMEN PENCERITAAN DASAR

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ada banyak elemen penceritaan dasar yang dapat digunakan dalam membangun produk mojo − beberapa di antaranya merupakan teknik jurnalistik profesional − seperti diungkap Burum:

Stand-Up atau Piece to Camera (PTC)

PTC ini biasanya digunakan jika reporter harus hadir saat tidak ada lagi gambar menarik yang dapat diambil, sehingga reporter dapat melaporkan kondisi di lapangan. Teknik ini juga bisa digunakan dalam menonjolkan keberadaan reporter, serta menjelaskan ataupun memberikan penekanan khusus terhadap informasi yang akan dibawakan. Meskipun demikian, PTC dapat ditaruh di mana saja sesuai dengan produk mojo yang kita buat, dan dapat menjadi jembatan bagi audiens dalam melihat suatu peristiwa melalui kehadiran sang reporter.

PTC dapat dilaksanakan dengan memperhatikan hal berikut:

  • Latar Belakang
    Jangan sampai latar belakang tempat kita melaporkan tidak mewakili kondisi lapangan. Mudahkan audiens untuk dapat mencerna informasi yang kita sajikan, termasuk di mana kita melaporkan. Meski ponsel memiliki keterbatasan jarak pandang, maksimalkan potensi tersebut secara manual  ataupun dengan fitur-fitur canggih yang tersedia.
  • Dead Air
    Sama seperti prinsip dalam televisi − setiap detik adalah berharga − jangan sia-siakan durasi dengan keheningan atau kekosongan konten, terutama selama transisi gambar dari atau ke PTC.
  • Eksperimen
    Cobalah untuk berjalan sambil melaporkan informasi kepada audiens. Dengan demikian, gambar terlihat lebih dinamis dan menarik. Usahakan agar ponsel tetap menangkan gambar secara keseluruhan.
  • Naskah
    Jika ingin menggunakannya, perlihatkan secara eksplisit bahwa itu adalah bagian dari PTC. Tetap fokus pada audiens yang memperhatikan.

Wawancara

Elemen ini menambah unsur kredibilitas produk mojo kita. Pernyataan dari narasumber akan menguatkan kegentingan, ketertarikan audiens, serta menambah pandangan baru. Selama mengambil wawancara, amati lanskap kamera ponsel, gunakan Rule of Third dalam jenis shot medium close up, dan perhatikan noseroom dan headroom. Kita bisa menggunakan perangkat audio tambahan jika kondisi lapangan terlalu berisik: baik itu dengan earphone, ataupun microphone yang bisa dilihat di bagian Perangkat dan Perlengkapan. Perhatikan pula agar gambar tidak terlalu bergoyang; gunakan tripod bila perlu. Jangan sampai narasumber kita terlihat konyol hanya karena salah pengambilan gambar.

Aktualitas

Sama seperti praktik kerja jurnalistik, begitu sampai di lapangan, segeralah rekam apa yang terjadi di sana. Maksimalkan ponsel yang kita gunakan dan rekam dari berbagai angle dan shot: high angle, eye level, low angle, hingga wide, long, medium, medium close up, ataupun close up shot. Karena semua adalah serba cepat, kelebihan kita dalam menggunakan ponsel tentu dapat segera merekam, menyunting, dan mengunggahnya dengan segera, berbeda dengan para reporter dan operator kamera yang mungkin baru datang sejam kemudian.

Overlay (B roll)

Bagaimana jika hasil suntingan wawancara kita terlalu ‘melompat’? Teknik ini merupakan cara jitu dalam mengakali jump-cut, baik secara hasil suntingan maupun dalam sequence. Sebelum beralih ke hasil wawancara, biasanya diperlukan footage dari aktualitas peristiwa yang turut menyertakan sang narasumber jika memungkinkan. Dengan demikian, audiens tak langsung kaget dengan keberadaan narasumber. Jika hasil suntingan juga membuat narasumber berbicara terputus-putus, kita dapat mengakalinya dengan ‘menindih’ gambar tersebut dengan footage yang relevan ataupun noddy – memperlihatkan reporter yang sedang mendengar.

Narasi

Narasi yang jelas dan sederhana menjadi kunci dalam memberikan pemahaman bagi audiens mengenai aspek yang tidak dapat ditonjolkan secara visual. Kita secara khusus harus menyinkronisasikannya dengan gambar yang ada, sehingga harmonisasi dengan menggunakan nada dan pelafalan yang jelas diperlukan. Bagaimanapun, setelah merekam narasi kita dengan microphone − cari studio atau ruangan yang kedap suara, atau dalam keterbatasan, rekamlah di bawah selimut dan tanpa gangguan suara − jangan hilangkan suara asli dari gambar aktualitas atau B roll kita.

Grafis

Elemen ini biasanya digunakan dalam membuat penceritaan ataupun liputan tentang ekonomi, olahraga, ilmu pengetahuan, ataupun tentang perdagangan. Namun, perlahan visualisasi memang lebih tepat digunakan dalam menggambarkan informasi yang kompleks. Ponsel zaman sekarang yang pintar dapat digunakan dengan menggunakan aplikasi yang ada (dapat dilihat di bagian Perangkat dan Perlengkapan). Meski demikian, keterbatasan ponsel dalam menghadirkan visualisasi yang ciamik, dapat diakali dengan membuat visualisasi di perangkat komputer, lalu mengimpornya ke dalam ponsel.

Musik

Dalam beberapa paket feature atau berita ringan, penggunaan musik menjadi hal yang lumrah, dan kita dapat menggunakan lagu-lagu yang otomatis tersedia dalam aplikasi penyuntingan di ponsel, atau gunakan aplikasi terkait. Jangan lupa hindari penggunaan lagu komersial; ada hak cipta yang membuat musik tak dapat digunakan sembarangan.

Gaya Peliputan

Jika kita ingin menonjolkan suatu peristiwa, maka pengambilan gambar yang lebih menonjolkan suasana menjadi utama. Sebaliknya, jika gambar kita kebanyakan lebih menonjolkan suatu individu, kita akan melibatkan audiens pada kehidupan sang individu. Elemen ini menjadi penting dalam mendefinisikan penceritaan mojo kita.

Suara

Produk mojo bukan hanya produk visual, tetapi multimedia yang melibatkan suara. Untuk itu, selalu pasang telinga dalam melihat kesesuaian perangkat dalam merekam suara di sekitar. Gunakan perangkat audio tambahan jika ingin merekam suara narasumber di tengah keramaian agar lebih kedap suara, atau secara sederhana rekamlah dengan ponsel jika ingin mengambil atmosfir suasana lapangan. Selalu pastikan suara dari setiap rekaman gambar kita tidak ada gangguan berarti, dan gunakan earphone untuk mendengarkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Burum, I. & Quinn, S. (2016). MOJO: The Mobile Journalism Handbook. Burlington: Focal Press.