Budaya TSP MRT Jakarta

View this post on Instagram

Dibuat oleh @belajarmojo

A post shared by belajarmojo (@belajarmojo) on

Bagaimana ya proses pembuatan IGTV ini? Saksikan behind the scenes berikut untuk menalaahnya!

PRAPRODUKSI

Peralatan dan Aplikasi

Pengembangan cerita

Pemilihan objek liputan merupakan salah satu hal yang terpenting dalam memulai sebuah liputan mojo. Melakukan liputan mojo sama seperti melakukan liputan biasa. Kita harus memperhatikan objek apa yang kita akan angkat. Cari objek yang up-to-date, dan jarang diangkat oleh media-media mainstream. Sekalipun objek tersebut sering dibahas, carilah angle yang menarik dan kira-kira tidak diketahui oleh masyarakat banyak.

Pada peliputan pertama ini, kami memutuskan untuk membahas MRT (Moda Raya Terpadu) yang merupakan pembahasan yang sudah cukup hangat diperbincangkan semenjak dimulainya uji coba publik terbatas pada tanggal 12 – 23 Maret 2019. Bukan hanya menjadi buah bibir, namun juga menjadi topik peliputan oleh media-media mainstream lainnya. Maka dari itu, kami memilih topik ini namun dengan angle yang berbeda dan jarang diketahui oleh masyarakat yaitu budaya Tahan, Simpan, Pungut (TSP).

Budaya TSP merupakan budaya yang ingin diperkenalkan ke masyarakat luas di Indonesia oleh PT MRT Jakarta. Budaya ini mendorong seluruh masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dengan tidak menyediakan tempat sampah di area stasiun MRT. Nyatanya, budaya ini belum diketahui oleh banyak orang. Maka dari itu kami mengangkat topik tentang budaya yang menarik ini dan melihat reaksi masyarakat dengan diberdayakannya budaya ini.

Setelah memilih topik dan angle yang mau diangkat, kami mulai merancang 5Ws, SCRAP, dan Five Point Plan untuk mengembangkan konten dan inti dari cerita kami. Berikut hasil dari pembuatan ketiga metode pengembangan cerita:

SCRAP

Story

Indonesia akhirnya memiliki transportasi massal yakni Mass Rapid Transit atau dalam istilah yang di-Indonesia-kan yakni Moda Raya Terpadu (MRT) pada 26 Februari 2019. Sejak dibukanya pengoperasian MRT pada Maret 2019, masyarakat mulai menjajal moda transportasi massal ini dengan antusias.

Dengan adanya transportasi massal ini diharapkan mampu mengurangi jumlah kendaraan di ibukota yang kemudian berdampak dalam mengurangi kemacetan.

Keberadaan MRT sendiri diharapkan mampu membawa budaya baru yang lebih maju pada masyarakat yakni budaya zero waste seperti yang ada di negara lainnya, melalui gerakan “Tahan, Simpan, dan Pungut.” Hal ini kemudian diwujudkan dengan tidak disediakannya tempat sampah di dalam stasiun maupun MRT itu sendiri oleh pemerintah. Hal ini tentunya mendapatkan respons yang beragam dan karena fenomena yang tergolong baru ini. Tema ini sangat cocok diangkat berkaitan dengan MRT Jakarta yang sedang terus disorot oleh masyarakat. Maka dari itu, tujuan peliputan ini adalah untuk mengangkat mengenai kesadaran masyarakat yang menggunakan transportasi MRT terhadap budaya Zero Waste dan “Tahan Simpan Pungut”.

Character

Peliputan kali ini akan melibatkan :

Gregorius (host): memandu penonton dan memaparkan informasi secara umum. Host berperan juga untuk memberi penjelasan dan konteks suasana yang ada dalam bentuk video blogging (vlogging)

Pengguna Jasa Layanan MRT: merupakan fokus utama karena merasakan dampak langsung dari karena penekanan budaya Zero Waste dan “Tahan, Simpan, dan Pungut” di kawasan stasiun MRT Jakarta. Penekanan ini ditunjukkan melalui bentuk wawancara (voxpop) dan analisis mendalam terhadap aspek tersebut.

Resolutions

Di awal cerita, host akan membawa penonton untuk ikut menjajal menaiki MRT dari Stasiun Lebak Bulus menuju Bundaran HI. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan keefektifan waktu dalam menaiki MRT dan ingin menyadarkan penonton untuk ikut naik MRT. Setelah itu, host mulai memperlihatkan bahwa di MRT maupun di stasiunnya tidak terdapat tempat sampah. Kemudian host akan menanyai tanggapan dari para pengunjung tentang ketiadaan tempat sampah, sekaligus mengedukasi Zero Waste dan gerakan TSP itu sendiri. Terakhir, host akan menyediakan solusi dengan menunjukkan gerakan TSP yang dapat dimulai dari diri sendiri.

Actuality

Dalam produksi ini, kami ingin menyadarkan masyarakat tentang budaya zero waste yang menjadi harapan pemerintah, serta ingin mengetahui sejauh mana masyarakat menerapkan gerakan “Tahan, Simpan, Pungut”(TSP). Vox pop akan dilakukan kepada pengunjung MRT di lokasi sekitar Stasiun Bundaran HI dan Dukuh Atas.

Production

Produksi akan dilakukan pada hari 15 April 2019 di MRT dari Stasiun Lebak Bulus hingga Bundaran HI.

Video ini akan berdurasi maksimal 5 menit yang akan dipandu oleh seorang host. Video akan menggunakan konsep vlogging oleh host yang akan dimulai dari host mengajak penonton untuk ikut menjajal MRT sambil memaparkan situasi tidak ada tempat sampah. Dilanjutkan dengan tanggapan pengunjung dan ditutup dengan kesimpulan oleh host. Gambar yang akan diambil antara lain situasi MRT, fasilitas di sana, situasi di stasiun MRT, signage, poster terkait aturan mengenai sampah,dan sebagainya.

5Ws

What

Kesadaran penumpang MRT mengenai budaya Zero Waste dan gerakan “Tahan, Simpan, Pungut”.

When

Setiap hari saat jam operasi MRT, selama masih adanya penumpang MRT.

Where

Stasiun MRT Lebak Bulus, Bundaran HI, dan Dukuh Atas.

Why

Terdapat banyak sekali sampah berserakan di area stasiun MRT yang baru saja diaktifkan pada bulan Maret lalu. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan menjaga kebersihan, dan mirisnya budaya pada segelintir masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan. Maka dari itu, diperlukan penyadaran adanya budaya Zero Waste dan pengetahuan mengetahui gerakan “Tahan, Simpan, dan Pungut” untuk mengurangi sampah-sampah yang dibuang secara berserakan. Hal ini juga didukung oleh pemerintah dengan meminimalisasi peletakan tempat sampah di setiap stasiun MRT. Namun, hal ini sebenarnya dapat menjadi serangan balik kepada pemerintah karena tidak menyediakan tempat sampah yang mumpuni untuk menampung sampah-sampah yang ada. Peliputan ini selain mendorong penyadaran masyarakat, juga akan mencari tahu pendapat masyarakat mengenai keputusan pemerintah untuk meminimalisasi keberadaan tempat sampah.

Who

Pengguna jasa layanan MRT.

Five-Point Plan

Eksposisi

Mengajak seluruh khalayak untuk ikut dalam perjalanan dengan transportasi massal MRT melalui liputan yang nantinya akan dipublikasikan sepenuhnya lewat Instagram. Tema yang akan diangkat adalah kesadaran pengguna MRT terhadap budaya “Tahan, Simpan, Pungut” (TSP) terkait sampah yang ingin diefektifkan di lingkungan ini. Dimulai dari informasi utama di IGTV (Instagram TV), yang akan dibuka dan ditutup dengan interaktivitas kepada khalayak.

Konflik

Menunjukkan tidak ditemukannya tempat sampah di area berbayar MRT, seperti di kawasan Stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, Bundaran HI, dan juga Dukuh Atas, serta beberapa poster ataupun signage berkaitan dengan sampah.

Klimaks

Mewawancarai pengguna jasa layanan MRT dari berbagai latar belakang, bagaimana atensi mereka terhadap budaya tersebut, sehingga diketahui bagaimana kesuksesan dan keseriusan pemerintah dalam menyosialisasikan budaya TSP. Bentuk-bentuk kemungkinan penyebab intens atau tidaknya atensi masyarakat terhadap budaya TSP juga akan dipaparkan.

Penyelesaian

Memberikan kesempatan kepada audiens untuk memberikan tanggapan dan juga pendapat pribadi terkait budaya TSP melalui fitur ask me question pada Instagram Story, guna mendapatkan pandangan yang lebih luas lagi dari masyarakat mengenai kebijakan pemerintah ini.

Resolusi

Setelah wawancara para pengguna dan bertanya kepada audiens di media sosial, kami menutup informasi dengan sosialisasi tentang budaya TSP. Dilengkapi dengan pengetahuan dasar dan juga contoh sederhananya.

Ketiga metode ini dianjurkan disusun sebelum ke lapangan agar saat melakukan proses produksi, pemikiran setiap individu dapat fokus pada cerita yang telah dibuat. Selain itu pembuatan ketiga metode ini dapat mendorong proses produksi yang lebih efektif.

Dalam proses praproduksi ini, kami setidaknya menggunakan beberapa perangkat keras dan layanan untuk menunjang pengembangan cerita.

PRODUKSI

Peralatan dan Aplikasi

Proses Liputan

Setelah pematangan pada proses pengembangan cerita, maka siaplah kami menuju langkah selanjutnya yaitu pengambilan footage di lapangan. Kami memulai perjalanan kami dari stasiun MRT Lebak Bulus, hingga ke stasiun akhir MRT yaitu Bundaran HI. Namun, sebelum itu tentunya kami menggunakan beberapa peralatan mojo yang diperlukan seperti 4 unit iPhone (3 iPhone 7 Plus & 1 iPhone XR), Rode Mic Me untuk menangkap audio, Mini Tripod, dan lain-lain (untuk selengkapnya akan ada pada tabel di bawah ini).

Memang, pada proses peliputan ini ada beberapa peralatan yang tidak kami gunakan seperti DJI Osmo Mobile, Ulanzi F Mount, dan Aputure Amaran AL-M9. Pencahayaan juga tidak terlalu diperlukan karena kami melakukan peliputan ini pada pagi hingga siang hari, dimana pencahayaan alami yaitu matahari dan penempatan lampu di stasiun MRT (indoor) sangat cukup untuk menerangi video kami. Karena Aputure Amaran AL-M9 tidak digunakan, maka kami tidak menggunakan Ulanzi F Mount sebagai stabilizer. DJI Osmo Mobile tidak dapat digunakan secara maksimal untuk pengambilan gambar secara vertikal sehingga kami memutuskan untuk tidak menggunakan DJI Osmo Mobile tersebut. Sedangkan pendistribusian yang kami pilih adalah IGTV dengan posisi video vertikal. Maka dari itu, kami memilih menggunakan mini tripod sebagai stabilizer. 

Pada pengambilan video secara vertikal dan horizontal tentunya mempunyai tantangan yang berbeda. Dengan posisi horizontal, pengambilan gambar akan jauh lebih wide karena bagian kiri dan kanan akan ikut terekam. Selain itu, biasanya informasi-informasi pendukung yang kerap diperhatikan berada di sebelah kiri dan kanan layar dengan pengambilan gambar horizontal. Hal ini tentunya akan menjadi tantangan tersendiri pada posisi pengambilan gambar vertikal. Posisi vertikal tentunya juga tetap harus memperhatikan rule of third untuk mempertahankan komposisi sebuah video. Apabila ingin memasukkan informasi penting, maupun perlu merekam objek yang berada di kiri atau kanan, maka perlu gerakan yang lebih untuk merekamnya yang memungkinkan objek utama dapat keluar dari layar.

Terdapat pula keuntungan merekam gambar menggunakan perangkat mobile ini. Seluruh proses liputan ini menggunakan smartphone yang merupakan teknologi yang sudah sangat familiar. Maka, tambahan perangkat stabilizer sesuai dengan kebutuhannya, maka dapat meminimalisir gerakan-gerakan yang tidak diperlukan dalam pengambilan gambar seperti shaky (gerakan goyang atau guncangan-guncangan kecil akibat tidak stabil dalam pengambilan gambar). Tidak hanya itu, peralatan yang digunakan pun cenderung lebih sederhana, sehingga tidak mempersulit mobilisasi saat liputan.

Pada bagian vlogging dengan orientasi portrait (vertikal) yang dilakukan host, penggunaan Dji Osmo Mobile yang tidak maksimal pada posisi portrait kami ganti dengan menggunakan tripod mini sebagai pegangan pada iPhone yang kami gunakan. Hasilnya pun masih lebih stabil ketimbang dipegang langsung, tetapi tetap shaky atau tidak stabil di kondisi tertentu, seperti saat host menaiki tangga di stasiun MRT pada opening video.Kesulitan yang sempat kami rasakan adalah pengambilan gambar suasana yang mendukung lokasi liputan yakni MRT. Contohnya saja saat pengambilan gambar voxpop. Dengan posisi vertikal, gambar hanya terfokus pada pengunjung saja, bagian lain yang mendukung keberadaan pengunjung tersebut kurang dapat terekam seperti kereta yang lewat maupun pengunjung lain yang berlalu lalang.

PASCAPRODUKSI

Proses yang dijalankan dalam bagian pascaproduksi terbagi ke dalam dua tahap besar yang dikerjakan secara berurutan; penyuntingan hasil liputan dan pendistribusian produk jurnalisme ponsel yang telah dibuat. Dengan hanya menggunakan satu perangkat keras, kami masuk ke dalam proses akhir jurnalisme ponsel kali ini.

Peralatan dan Aplikasi

Penyuntingan Video IGTV

Kegiatan penyuntingan video biasa dilakukan dengan menggunakan perangkat keras komputer atau laptop. Akan tetapi dalam praktik mojo kali ini kami belajar untuk memaksimalkan fungsi dari smartphone itu sendiri. Mulai dari kegiatan perekaman footage hingga masuk ke dalam tahap penyuntingan ini. Pengalaman baru bagi kami ketika harus menyunting video menggunakan smartphone terlebih ketika terbiasa untuk melakukan penyuntingan menggunakan laptop atau perangkat keras komputer. 

Pada proyek kali ini kami menggunakan aplikasi besutan dari Adobe yaitu Premiere Rush. Aplikasi ini mungkin terdengar tidak asing, karena sebenarnya aplikasi ini merupakan aplikasi versi ponsel dari aplikasi Adobe Premiere Pro yang ada pada perangkat komputer. Mulai dari logo hingga pengalaman menggunakan aplikasi yang terasa mirip dan sangat memudahkan kegiatan penyuntingan apalagi karena telah terbiasa menggunakan versi perangkat komputernya. Hal ini juga yang mendasari pemilihan aplikasi Premiere Rush ini dibandingkan aplikasi penyuntingan video lainnya seperti inShot, Filmmora, iMovie dan aplikasi penyuntingan video ponsel lainnya.

Kesulitan yang paling terasa adalah menyesuaikan proses penyuntingan dengan workspace yang lebih kecil (layar ponsel) dalam penyuntingan video. Beberapa perbedaan yang terasa adalah terbatasnya pilihan dan fungsi tools-tools yang ada dalam aplikasi ini. Hal ini membuat beberapa kesulitan seperti tidak dapat membuat jarak kosong antar footage video untuk isi dengan teks, serta beberapa hal lainnya. Namun secara keseluruhan, aplikasi ini merupakan aplikasi yang paling cepat dikuasai karena paling mirip dengan versi perangkat komputernya terlebih bagi pengguna yang terbiasa dengan aplikasi bawaan komputernya.

Distribusi dan Interaktivitas 

Distribusi yang ingin dikejar oleh kami tidak hanya berbicara tentang bagaimana mengatur waktu yang tepat untuk mengunggah dan menyebarkannya; namun tentang bagaimana audiens juga dapat ikut terlibat di dalamnya. Kami ingin memberikan kenyamanan bagi audiens untuk dapat ikut terlibat di dalam perjalanan liputan kami.

Kami mengunggah video dengan durasi sepanjang kurang lebih 6 menit yang menjadi produk utama kami di IGTV (Instagram TV), melalui akun Instagram @belajarmojo. Selain itu, kami juga menggunakan fitur Story untuk menjadi pemantik rasa penasaran audiens terhadap video yang ada di IGTV. Story pertama berbicara tentang suasana dalam stasiun MRT yang mengajak audiens untuk bersama-sama ikut di dalam perjalanan hari ini. Pada unggahan Story yang kedua, kami memperlihatkan suasana langsung untuk memberikan pengalaman yang lebih nyata kepada audiens; ditambah dengan pertanyaan singkat mengenai pengalaman audiens terhadap MRT dalam bentuk vote yang disediakan oleh Story pada Instagram. Story ketiga dan story keempat saling berhubungan, audiens dapat mengidentifikasi pengerucutan bahasan menjadi budaya TSP yang diterapkan pemerintah pada transportasi umum yang satu ini. Masih berkutat dengan interaktivitas, tidak lupa kami menggunakan Rate untuk melihat tanggapan audiens terhadap topik bahasan yang diangkat. Story terakhir mengarahkan audiens langsung kepada produk utama hasil liputan kami.

Selamat mencoba, Sobat Mojo!