Apa itu BelajarMojo?

Di seluruh dunia, terjadi revolusi dalam cara wartawan mengumpulkan dan menyampaikan berita. Jurnalis profesional di seluruh dunia menyiarkan, memotret, mengedit, dan mem-posting berita langsung hanya dengan ponsel pintar mereka. 

Ponsel pintar telah berkembang sangat cepat sehingga memungkinkan wartawan untuk melakukan pekerjaan jurnalistik dengan lebih mudah, cepat, dan praktis. Pada saat yang sama, masyarakat dengan alat yang sama melakukan bentuk pengumpulan berita mereka sendiri, dan beberapa organisasi berita yang tercerahkan merangkul karya warga tersebut. 

Kondisi ini memberi kesadaran baru bahwa perangkat seluler yang kita gunakan sehari-hari menjadi alat luar biasa untuk produksi konten bahkan seseorang bisa memiliki studio penyiaran sendiri dalam genggaman. 

Praktisi media dan cendekia menyebut aktivitas ini dengan istilah ‘Mobile journalism’, yang kerap dikenal sebagai Mojo. Mojo adalah kerja jurnalistik multimedia di era konvergensi dalam menceritakan peristiwa secara akurat dan berkualitas.

BelajarMojo dibuat untuk memperkenalkan seperangkat keterampilan multimedia dan alat digital yang dirancang untuk membuat masyarakat, mahasiswa komunikasi, dan jurnalis profesional lebih siap untuk proses perubahan konvergen yang terjadi di masyarakat. 

Mojo tidak berbeda dengan aktivitas jurnalisme pada umumnya. Hanya saja Mojo memerlukan apa yang disebut Stephen Quinn sebagai pola pikir multimedia yakni cara berpikir yang mampu menggabungkan video, audio, teks, grafik, dan gambar diam menjadi sebuah karya jurnalistik yang memiliki storytelling yang unik dan menarik. Maka dari itu Ivo Burum menegaskan bahwa keberhasilan Mojo juga bergantung pada keterampilan jurnalisme tradisional (Burum & Quinn, 2016).

BelajarMojo menawarkan dasar pemikiran dan praksis untuk membekali mahasiswa komunikasi, jurnalis, dan komunitas dengan keterampilan dan teknologi untuk memungkinkan mereka mengembangkan cerita mereka sendiri dalam lanskap media baru. Dengan mengetahui dan memahami bagaimana Mojo bekerja, diharapkan mahasiswa komunikasi, jurnalis, dan komunitas dapat melahirkan karya jurnalistik multimedia yang baik dan berkualitas. 

Albertus Magnus Prestianta, 
Pengajar Jurnalistik UMN